Senyum di Pagi Bulan Desember
Posted by Christantiowati on December 30, 2009
Saya selalu berterima kasih pada Ibu saya akan satu hal ini : memperkenalkan bacaan dan film anak yang baik bagi kami – saya dan dua adik – putri-putrinya. Di tengah anggaran yang amat ketat – orangtua tunggal semenjak Bapak meninggal ketika usia saya masih 2,5 tahun, dan si bungsu masih di kandungan – entah bagaimana caranya, Ibu selalu bisa menyisihkan uang untuk membelikan kami buku dan majalah anak-anak – Bobo, Ananda – dan yang paling menggembirakan : menonton film di Mayestik, bioskop satu layar yang kini sudah tutup di Pasar Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Ada dua film yang tak pernah lepas dari kenangan. Satu film produksi Belanda – sayang saya lupa judulnya – mengisahkan persahabatan bocah perempuan keturunan Indonesia dengan bocah lelaki setempat di tengah banjir besar yang melanda negeri di bawah garis batas laut itu – Nederland. “Wah, orang Belanda ternyata bisa susah juga ya, Bu.” Samar-samar masih teringat kesan saya usai menonton. Kesadaran pertama, bahwa negeri saya, setidaknya tempat tinggal kami di Kebayoran nyaman sekali. Bertetangga degnan sawah, empang kangkung, pabrik tahu, tempe dan kebun buah.
Yang utama: Senyum di Pagi Bulan Desember. Bagaimana saya bisa lupa akan cerita yang begitu menyentuh ini: Bunga (Santi Sardi) yang sepantaran kami bisa bersahabat dengan tiga narapidana yang sedang melarikan diri dan bersembunyi di gudang rumah. Para pria dewasa itu memberinya kegembiraan ketika ia mencari teman bermain sebaya, dan Bunga membalasnya dengan menjadi ‘pencuri’ baik hati, menyisihkan sebagian jatah makannya, diam-diam bagi para sahabatnya. Akhir film itu sebenarnya agak kami sayangkan di mata kami sebagai anak-anak: mengapa akhirnya ketiga ‘penjahat’ itu harus ditangkap polisi dan kembali ke penjara, bukan langsung dibebaskan? Kelak, saya baru menangkap pesan tersamarnya: jangan lari dari apapun. Hadapi!
Walau tak menjadi ‘anak televisi’ – keranjingan menonton tv hampir sepanjang hari – saya selalu tak melewatkan waktu untuk menonton pemutaran film. Terima kasih Tuhan, karena tahun 80-an itu baru ada TVRI, jadi saya tak perlu berebut mengubah channel dengan dua adik saya. Serial dokumenter bawah laut yang mengisahkan penjelajahan Jacques Cousteau melambungkan gairah petualangan saya : suatu saat, saya ingin seperti dia! Terima kasih Tuhan, akhirnya, dua dekade kemudian, dimulai dari tiada bisa berenang hingga dewasa, akhirnya saya bisa belajar menyelam, dan mengikuti jejaknya: berkelana di bawah laut Nusantara, dari Aceh sampai Papua.
Lewat Born Free, sejak kecil saya disentil: sayangi teman-temanmu, walau mereka binatang. Di kebun rumah kami yang cukup luas, para ayam menyongsong tiap kali saya pulang sekolah dan memberi mereka butiran nasi dan sisa roti. Dan, masuk ke kandang sendiri begitu senja tiba. Para kucing, walau ulah mereka kadang menjengkelkan, kami tetap kehilangan ketika mereka kadang satu dua hari pergi meninggalkan rumah.
Little House on the Prairie di daratan barat Amerika Serikat membekali saya akan gaya hidup para perintis yang membuat Amerika menjadi negara besar. Penuh kegembiraan kanak-kanak – bagaimana membuat sirup maple menjadi selai roti, bermain di sungai dan padang rumput. Juga naik-turunnya kehidupan yang membuat mereka kadang harus pindah untuk mencari yang lebih baik.
Saya tak putus merasa terberkati tiap kali tiba di suatu tempat yang membuat kita sejenak merasa berhenti bernapas – indah, sekalipun kadang mencekam. Banyak dari tempat yang saya kunjungi bermula dari perkenalan pertama lewat buku dan film. Jika menukik lebih dalam, banyak pemilihan lokasi pembuatan film bermula dari cerita dan buku. Banyak dari keduanya bermuara ke satu perkembangan : mengilhami dan mengundang banyak orang untuk datang.
Fim dan tempat tujuan wisata saling mengilhami. Mari kita mulai ‘mempergunjingkan.’ Hari ini, 30 Desember 2009, saya gembira memulainya dengan senyum di pagi bulan Desember.
Posted in Uncategorized | 10 Comments »

